Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun (B3) di Indonesia

Limbah Bahan berbahaya dan Beracun (LB3) merupakan material sisa suatu usaha atau kegiatan yang bersifat berbahaya dan beracun. Dalam Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, didefinisikan sebagai

zat, energi, dan/atau  komponen lain yang karena sifat, konsentrasi, dan/atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain”.

Karaktertik LB3 diantaranya mudah meledak, mudah menyala, reaktif (mudah atau cepat bereaksi), Infeksius (dapat menyebabkan infeksi), Korosif ( dapat menyebabkan karat), dan beracun.

LB3 dalam regulasi Indonesia dibagi kedalam 2 hal, yaitu berdasarkan: 1) kategori bahaya; dan 2) berdasarkan sumbernya. LB3 dalam kategori bahaya dibagi dalam 2 kategori, yakni LB3 kategori 1, dan LB3 kategori 2. LB3 kategori 1 adalah LB3 yang memiliki dampak akut dan langsung terhadap manusia dan dipastikan berdampak buruk / negative bagi lingkungan hidup. LB3 kategori 2 adalah LB3 yang memiliki toksisitas sub-kronis atau kronis dan menimbulkan dampak / efek tunda (delayed effect) dan berdampak tidak langsung terhadap manusia dan lingkungan hidup.

Berdasarkan sumbernya LB3 terdiri atas: 1) LB3 dari sumber tidak spesifik; 2) LB3 d ari B3 kedaluwarsa, B3 yang tumpah, B3 yang tidak memenuhi spesifikasi produk yang akan dibuang, dan bekas kemasan B3; 3) LB3 dari sumber spesifik (umum dan khusus).

Sebagaimana dalam pengelolaan sampah, prinsip pengelolaan limbah pun mengenal prinsip 3R, namun tidak memasukkan Reduce dalam komponennya melainkan Recovery. 3R yang dimaksud adalah Reuse, Recycle, Recovery yang merupakan satu mata rantai penting dalam pengelolaan LB3.

  • Reuse (penggunaan kembali) LB3 untuk fungsi yang sama atau berbeda dilakukan tanpa melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal.
  • Recycle (daur ulang) LB3 dilakukan melalui proses tambahan secara kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal yang menghasilkan produk yang sama, berbeda, dan/atau menjadi material yang bermanfaat.
  • Recovery (perolehan kembali) adalah kegiatan mendapatkan kembali komponen bermanfaat dengan proses kimia, fisika, biologi, dan/atau secara termal dari limbah B3.

Rangkaian pengelolaan Limbah B3 meliputi enam tahap kegiatan yaitu penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, pemanfaatan, dan penimbunan Limbah B3. Keenam tahap kegiatan tersebut masing-masing harus memiliki Izin untuk memastikan setiap kegiatan dilakukan secara benar, tepat, dan sesuai dengan Peraturan yang ada. Adapun proses pembuangan (dumping) menjadi alternatif terakhir dalam pengelolaan LB3, dan harus memenuhi persyaratan terkait dengan jenis dan kualitas LB3 serta lokasi pembuangan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014. Kegiatan pembuangan (dumping) LB3 dapat dilakukan dengan mendapatkan izin dari menteri, dan wajib memiliki izin lingkungan (diatur dalam PP No.27 tahun 2012). Media pembuangan LB3 diantaranya dibuang ke tanah dan laut dengan sebelumnya dilakukan netralisasi atau penurunan kadar racun (bila ada).

Untuk lebih menetahui tentang PP No 101 Tahun 2014, bisa di download di link ini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s